Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label pembangunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembangunan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juni 2010

pengantar komunikasi pembangunan

KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

A. PENGERTIAN

Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari seseorang (komunikator) kepada pihak lain (komunikan) dengan tujuan menyamakan persepsi dan tanggapan yang dibicarakan. “Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna” (Effendy,1990:9).

Sebenarnya di dalam suatu proses komunikasi,terdapat banyak model yang dapat kita gunakan. Tapi dalam komunikasi pembangunan ini model komunikasi yang kita gunakan adalah S - M - C - R – E, yaitu proses yang berjalan dari seorang komunikator yang membawa pesan melalui sebuah saluran yang ditujukan kepada komunikan sehingga menimbulkan dampak tertentu.

Pembangunan menurut Rogers (1969,1971) adalah proses-proses yang terjadi pada level atau tingkatan sistem sosial, sedangkan modernisasi menunjuk pada proses yang terjadi pada level individu. Rogers sendiri (1978) mengubah rumusan yang pernah dibuatnya tentang pembangunan dari apa yang pernah dikemukakannya sebelumnya (1971, 1973, 1976) dengan menyatakan pembangunan sebegai suatu proses perubahan sosial yang bersifat partisipatori secara luas untuk memajukan keadaan sosial dan kebendaan termasuk keadilan yang lebih besar, kebebasan dan kualitas yang dinilai tinggi yang lainnya, bagi mayoritas masyarakat melalui perolehan mereka akan kontrol yang lebih besar terhadap lingkungannya[1].

Sedangkan pembangunan menurut Tehranian (1979) adalah mengartikan istilah kemajuan (progress), pembangunan (development), dan modernisasi, sebagai suatu fenomena historis yang sama, yaitu suatu transisi dari masyarakat yang agraris ke masyarakat industrial[2].

Komunikasi dan pembangunan merupakan dua hal yang saling berhubungan sangat erat. Kedudukan komunikasi dalam konteks pembangunan adalah “as an integral part of development, and communication as a set of variables instrumental in bringing about development“ (Roy dalam Jayaweera dan Anumagama, 1987). Siebert, Peterson dan Schramm (1956) menyatakan bahwa dalam mempelajari sistem komunikasi manusia, seseorang harus memperhatikan beberapa kepercayaan dan asumsi dasar yang dianut suatu masyarakat tentang asal usul manusia, masyarakat dan negara[3]. Sehingga dapat kita artikan bahwa komunikasi pembangunan adalah proses penyebaran pesan oleh seseorang atau sekelompok orang kepada khalayak guna mengubah sikap, pendapat, dan perilakunya dalam rangka meningkatkan kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah, yang dalam keselarasannya dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat[4]. Komunikasi pembangunan sendiri memiliki dua pengertian, baik secara luas maupun secara sempit. Pengertian komunikasi pembangunan secara luas adalah peran dan fungsi komunikasi (sebagai aktivitas pertukaran pesan secara timbal balik) di antara semua pihak yang terlibat dalam usaha pembangunan, terutama masyarakat dan pemerintah, sejak dari proses perencanaan, pelaksanaan dan penilaian terhadap pembangunan. Sedangkan dalam arti sempit, komunikasi pembangunan merupakan segala upaya dan cara, serta teknik penyampaian gagasan, dan keterampilan-keterampilan penbangunan yang bersal dari pihak yang memprakarsai pembangunan yang ditujukan pada masyarakat luas.

B. TUJUAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

Komunikasi pembangunan mempunyai tujuan, antara lain memberikan informasi, persuasif (menggugah perasaan), mengubah perilaku, mengubah pendapat atau opini, mewujudkan partisipasi masyarakat, dan meningkatkan pendapatan. Tujuan-tujuan komunikasi pembangunan ini diharapkan dapat menyebabkan perubahan di masyarakat atau perubahan sosial (social change).

Komunikasi pembangunan di Indonesia memiliki tujuan inti, yaitu dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia itu sendiri yang harus bersifat pragmatik, yaitu suatu pola yang membangkitkan inovasi bagi masa kini dan masa depan.

METODE PENDEKATAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

Komunikasi pembangunan memiliki beberapa metode-metode pembangunan, antara lain:

a. Pendekatan Sasaran

1. Pendekatan massa

Metode yang digunakan adalah dengan cara memberikan pemahaman awal kepada masyarakat dengan media massa yang dilakukan oleh pengambil kebijakan. Pendekatan massa ini mempunyai keuntungan yaitu program dapat cepat tersebar luas.

2. Pendekatan kelompok

Metode ini dugunakan untuk menginformasikan program kepada kelompok-kelompok masyarakat, seperti pelatihan dan workshop. Keuntungan dari pendekatan ini adalah program dapat dipantau secara baik.

3. Pendekatan Individu

Metode ini digunakan untuk menginformasikan program dengan mendatangi langsung rumah-rumah warga. Keuntungan dari pendekatan ini adalah warga merasa dihargai, komunikasi dari hati ke hati, petugas dapat menggali semua permasalahan warga

b. Pendekatan Materi

1. Metode ceramah dan diskusi.

2. Penggunaan alat bantu gambar serta media demonstrasi.

C. KOMUNIKASI PEMBANGUNAN DI INDONESIA

Komunikasi pembangunan yang dilancarkan di Indonesia pasti berbeda dan harus berbeda dengan apa yang ada di negara-negara lainnya karena subjek dan objek yang terlibat dalam komunikasi pembangunan itu memang berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, disebabkan oleh kekhasan dalam tujuan negara, sistem pemerinyahan, latar belakang kebudayaan, pandangan hidup bangsa, dan nilai-nilai yang merekat pada rakyat, yakni rakyat Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika itu.

Ditinjau dari ilmu komunikasi yang juga mempelajari dan meneliti proses, yakni proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk mengubah sikap, pendapat dan perilakunya, maka pembangunan melibatkan dua komponen yang kedua-duanya merupakan manusia. Yang pertama adalah komunikator pembangunan yang harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menyebarluaskan pesan. Yang kedua adalah komunikan pembangunan, baik penduduk kota maupun penduduk desa, yang harus diubah sikap, pendapat, dan perilakunya.

Menurut Koentjaraningrat, suatu bangsa yang hendak mengintensifkan usaha untuk pembangunan harus berupaya agar banyak dari warganya lebih menilai tinggi orientasi ke masa depan, dan dengan demikian bersifat hemat unutk bisa lebih teliti memperhitungkan hidupnya di masa depan, lebih menilai tinggi hasrat eksplorasi untuk mempertinggi kapasitas berinovasi, lebih menilai tinggi orientasi ke arah achievement karya, dan akhirnya menilai tinggi mentalitas berusaha atas kemampuan sendiri, percaya kepada diri sendiri, berdisiplin murni, dan berani bertanggung jawab sendiri.

Dengan demikian, pembangunan nasional yang digalakkan di Indonesia ini, yakni dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia, harus bersifat paradigmatik, yakni merupakan pola yang membangkitkan inovasi bagi masa yang dijalani dan dihadapi sebagaimana ditegaskan dalam GBHN. Bukannya bersifat dilematik dan problematik, terutama dalam pelaksanaannya, disebabkan oleh kekurang pahaman akan mentalitas bangsa sendiri[5].

D. KOMUNIKASI PEMBANGUNAN DALAM PENERAPANNYA

Di dalam menerapkan program- program pembangunan ada tiga hal penting

yang harus diperhatikan, yaitu: (1) program tersebut dapat dilakukan dengan mudah

oleh masyarakat, (2) program tersebut menguntungkan sehingga dapat meningkatkan

pendapatan masyarakat dan (3) jika dijalankan, program tersebut tidak menimbulkan

kesenjangan sosial di masyarakat. Jadi, ketika kita menerapkan komunikasi

pembangunan, sebelumnya kita sudah harus dapat memahami dan menyesuaikan

dengan kondisi sosial di daerah tersebut.

Komunikasi pembangunan dapat diterapkan melalui beberapa cara, yaitu

melalui media massa, dengan komunikasi kelompok ataupun dengan komunikasi

personal.

Di Indonesia, komunikasi pembangunan sudah diterapkan di beberapa bidang, seperti misalnya di bidang pertanian, program Keluarga Berencana, di bidang pendidikan dan di bidang kesehatan.

E. KASUS-KASUS KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

a. Komunikasi Personal

Dalam kasus ini dilakukan atas nama personal atau dengan pendekatan personal. Adapun kasusnya seperti orang tua yang membimbing anak, seseorang yang membimbing orang lain atau bahkan hingga melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh tertentu secara personal.

b. Komunikasi Kelompok

Kasus ini dilakukan atas nama lembaga, organisasi, dan lain sebagainya. Adapun kasusnya seperti penyuluhan kepada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), penyuluhan pertanian kepada kelompok petani, dan dapat pula berupa penyuluhan di posyandu. Kasus komunikasi kelompok ini ada yang berupa kelompok kecil maupun kelompok besar. Komunikasi kelompok kecil dilakukan dalam kelompok yang lebih terbatas dan dimungkinkan terjadi proses komunikasi dua arah, contohnya seperti penyuluhan dan lokakarya. Sedangkan komunikasi kelompok besar dilakukan dalam kelompok besar, heterogen, anonim dan tidak dimungkinkan terjadi proses komunikasi dua arah, seperti halnya yang terjadi pada saat orasi kampanye partai politik.

c. Komunikasi Massa

Komunikasi massa ini dilakukan dengan keterlibatan media massa. Contoh dalam kasus ini seperti kampanye anti rokok, iklan layanan masyarakat hemat listrik, film dokumenter mengenai transmigrasi, talk show hingga penyampaian pesan dalam pemberitaan. Itu semua bagian dari pengaplikasian komunikasi masa pada kehidupan bermasyarakat pada umumnya. Selain terbetuk pendapat yang berbeda yang menyatakan bahwa komunikasi massa tidak selalu menggunakan media massa. Pidato di hadapan sejumlah orang banyak di sebuah lapangan asal menunjukan perilaki massa (mass behavior) dapat dikatakan komunikasi massa.oleh sebab itu, komunikasi yang dilakukan oleh si orator secara tatap muka seperti itu adalah juga komunikasi massa.

F . KESIMPULAN

Dari pernyataan diatas bisa kita simpulkan bahwa tugas pokok dari komunikasi pembangunan dalam suatu perubahan social dalam rangka pembangunan nasional yaitu menyampaikan informasi kepada masyarakat agar mereka memusatkan perhatian kepada kebutuhan akan perubahan, membangkitkan aspirasi nasional, memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengambil bagian secara aktif dalam proses pembuatan keputusan, menciptakan arus informasi yag berjalan lancar dari bawah ke atas dan mendidik tenaga kerja yang diperlukan untuk pembangunan.



[1] Zulkarimen Nasution, 2001. Komunikasi Pembangunan Pengenalan Teori dan Penerapannya. Jakarta:RajaGrafindo Persada, hal 82.

[2] Ibid, hal 82.

[3] Drs. Mukti Sitompul, M.Si, 2002. “Konsep-konsep Komunikasi Pembangunan”.

[4] Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A, 1990. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya, hal 92.

[5] Ibid, hal 88-91.

Media Rakyat dalam Komunikasi Pembangunan

Media Rakyat dalam Komunikasi Pembangunan

Perkembangan teknologi komunikasi tidak dengan sendirinya akan menggantikan model-model komunikasi dan institusi komunikasi yang sebelumnya telah ada di masyarakat. Pada masyarakat pedesaan dimana sebagian besar mereka adalah masyarakat tradisional terdapat berbagai media sosial sebagai sarana efektif saling berinteraksi. Media ini telah sejak lama tumbuh dan berkembang bersama masyarakat dan menjadi media sosialisasi nilai-nilai antar warga masyarakat, bahkan dari generasi ke generasi. Media ini dikenal sebagai media rakyat.

Media sosial adalah wahana komunikasi atau pertukaran informasi yang telah terpola dalam kehidupan sosial suatu komunitas masyarakat. Media sosial menuntut keterlibatan secara fisik individu dalam proses komunikasi (Sigman;124). Media rakyat ini digambarkan sebagai media yang murah, mudah, bersifat sederajat, dialogis, sesuai dan sah dari segi budaya, bersifat setempat, lentur menghibur dan sekaligus memasyarakat juga sangat dipercayaoleh kalangan masyarakat pedesaan yang kebetulan menjadi kelompok sasaran utama (Oepen;hal 88). Keberadaan media sosial didalam masyarakat pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari adanya pola yang spesifik di dalam pemanfaatannya. Hal ini erat kaitaanya dengan pola-pola tertentu bagi pemenuhan kebutuhan warga masyarakat di dalam kehidupan kolektifnya. Dari deskripsi diatas nampak bahwa pola-pola yang dibentuk dari proses komunikasi tersebut dengan kebutuhan informasi.

Media rakyat merupakan media yang bertumpu pada landasan yang lebih luas daripada kebutuhan dan kepentingan semu khalayaknya. Media rakyat adalah adaptasi media untuk digunakan oleh masyrakat yang bersangkutan, apapun tujuannya dan ditetapkan oleh masyarakat itu. Media ini adalah media yang memberi kesempatan kepada warga masyarakat untuk memperoleh informasi, pendidikan, hiburan, bila mereka menginginkan kesempatan itu. Media ini adalah media yang menampung partisipasi masyarakat sebagai perencana, pemproduksi sekaligus pelaksana. Media ini adalah sasaran bagi masyarakat untuk mengemukakan sesuatu, bukan untuk menyatakan sesuatu kepada masyarakat. Komunikasi masyarakat mengungkap pertukaran pandangan dan berita, bukan penyaluran dari satu sumber kepada pihak lain.

Media rakyat sering muncul dalam bentuk kesenian daerah atau kebudayaan tradisonal daerah. Kesenian atau budaya daerah digunakan sebagai wahana untuk memperkenalkan dan memberikan pesan-pesan pembangunan kepada masyarakat pedesaan. Karena warga masyarakat pedesaan masih menyukai dan membutuhkan budaya atau kesenian tradisional sebagai sebuah bentuk hiburan maka media ini juga menjadi sarana yang sangat tepat sebagai media tranformasi nilai-nilai, termasuk pesan-pesan pembangunan dari pemerintah. Pesan-pesan pembangunan disisipkan secara implisit dan kreatif sehingga terasa menyatu dengan media rakyat.

Ada banyak macam media rakyat yang selama ini tumbuh, berkembang di masyarakat, namun banyak pula yang hilang karena ditinggalkan penggemarnya dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Pemilihan media rakyat yang mana yang bisa digunakan untuk menyebar luaskan ide-ide pembangunan adalah sangat penting untuk mendukung efektifitas pesan.

Media rakyat dalam bentuk seni rakyat (folk culture) diyakini dapat lebih mudah digunakan sebagai sarana menyebar luaskan informasi pembangunan karena media tersebut telah ada dan dekat dalam kehidupan masyarakat setempat. Dengan media rakyat, masyarakat akan ikut serta merasa memiliki atau terlibat dalam pembuatannya, sehingga memungkinkan tersampaikannya pesan-pesan pembangunan secara lebih efektif. Induksi nilai-nilai yang sifatnya evolutif dan menyatu dengan masyarakat dapat membuat masyarakat merasa tidak dipaksa untuk mengadopsi nilai-nilai baru.

Upaya penyebaran informasi pembangunan yang disampaikan melalui media melalui media yang ada bagi setiap masyarakat bangsa berbeda-beda disebabkan oleh struktur dan sistem masyarakat yang berbeda pula. Bagi masyarakat yang mempunyai struktur dan sistem sosial yang majemuk, penyebaran informasi melalui media massa masih memerlukan upaya dengan media tradisional yang ada dalam masyarakatnya (Rogers 1971 : 165).

Dalam komunikasi tradisional di pedesaan, penggunaan pertunjukan rakyat sebagai media komunikasi mempunyai potensi besar untuk mencapai rakyat banyak, terutama sekali karena media tersebut memiliki daya tarik yang sangat kuat dan berakar di tengah-tengah masyarakat. Media tradisional merupakan alat komunikasi yang sudah lama digunakan di suatu tempat (bersifat lokal) yaitu sebelum kebudayaannya tersentuh oleh teknologi modern dan sampai sekarang masih digunakan di daerah itu. Media ini akrab dengan massa khalayak, kaya akan variasi, dengan segera tersedia, dan berbiaya rendah. Media ini dengan segala kelebihannya memeiliki potensi yang dimiliki oleh pertunjukan rakyat dan sangat efektif untuk menyampaikan pesan-pesan komunikasi pembangunan.

Bila melihat tujuan komunikasi pembangunan yang tidak sekedar bagaimana terciptanya perubahan sikap, pendapat atau perilaku individu atau kelompok, melainkan perubahan masyarakat atau perubahan sosial (AS Achmad : 1997). Untuk itu, diperlukan berbagai sarana yang bisa memerankan posisi yang sangat penting tersebut, termasuk penggunaan media rakayat tradisional yang sudah ada. Disini, pemerintah diharapkan tanggapan yang positif untuk memelihara dan mempertahankan setiap media rakyat ini bukan sekadar digunakan untuk fungsi hiburan masyarakat saja, tetapi dapat dimanfaatkan secara lebih optimal dalam tujuan pembangunan nasional di negara kita.

Pertunjukan Wayang Kulit Sebagai Salah Satu Bentuk Media Rakyat

Berbicara tentang wayang, berarti berbicara mengenai suatu media rakyat yang semakin ditinggalkan. Kesenian wayang berkembang di Indonesia sejak zaman Hindu-Budha. Epos Mahabarata dan Ramayana yang notabene merupakan kisah-kisah yang berkembang di India, negara asal agama Hindu-Budha. Masyarakat yang saat itu minim hiburan disuguhi dengan suatu pertunjukan yang sangat menarik.

Kesenian wayang kulit sebagai salah satu media rakyat tradisional memiliki peran yang cukup besar bagi perkembangan masyarakat. Di zaman modern ini wayang kulit sebagai media komunikasi sosial sekaligus tradisional mampu memberikan kontribusi bagi perubahan masyarakat. Pada zaman Orde baru, pesan-pesan pemerintah dapat dengan mudah ditangkap oleh masyarakat karena media ini merupakan media yang efektif sejak zaman dahulu.

Ditengah pembangunan yang digalakkan oleh pemerintah orde baru jaman dulu, wayang kulit dipilih sebagai salah satu media yang mampu berbicara banyak. Program-program pemerintah tentang informasi, pendidikan, komunikasi juga otonomi dapat berfungsi dengan seimbang karena dukungan partisipasi langsung masyarakat pedesaan. Sehingga target yang dicapai dapat terlaksana dengan optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad,A.S., 1997, Komunikasi dan Pembangunan Nasional, Universitas Terbuka, Jakarta.

Oepen, Manfred, 1988, Media Rakyat Komunikasi Pengembangan Masyarakat, P3M, Jakarta.

Rogers, Everett M, 1992, Komunikasi dan Pembangunan Perspektif Kritis, LP3ES, Jakarta.

Satria J, Pandu, 2007, Wayang Kulit, Media Sosial yang Membangun di Era Pembangunan,Tugas Komunikasi Sosial; Ilmu Komunikasi UGM, Yogyakarta.

Siregar, Ashadi, 1990, Komunikasi Sosial Sebuah Pengantar, Seksi Penerbitan Badan Penelitian dan Pengembangan FISIPOL UGM, Yogyakarta.

Susanto, Astrid, 1990, Komunikasi Sosial di Indonesia, Grafika, Jakarta.